oleh

Nyaris Seperti Rutinitas, Kenaikan Harga Pangan Perlu Solusi Permanen

Basurek.com, Bengkulu – Sejumlah harga komoditas pangan terus meningkat seiring telah dimulainya bulan puasa. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) merilis bahwa ini baru fase pertama kenaikan harga pangan saat periode ramadan dan diprediksi akan terus berjalan hingga lebaran.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, kenaikan harga pangan jelang lebaran nyaris seperti rutinitas yang seakan tak menemukan jalan keluar.

“Pas harga naik, pemerintah mulai bikin inspeksi mendadak untuk mengecek harga di pasar. Terus bikin operasi pasar. Lalu dikesankan bahwa pemerintah sudah turun tangan. Terus saja berulang seperti ini. Seperti lingkaran iblis. Masalahnya muncul terus dan evaluasinya tidak selesai-selesai,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Jumat (16/4/2021).

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini berharap ada solusi permanen yang diambil pemerintah sebelum Ramadan sehingga persoalan gejolak harga pada bulan puasa hingga lebaran tersebut bisa dikendalikan untuk sekarang dan selamanya.

“Saya juga minta impor pangan kalau merugikan petani dievaluasi. Lahan kosong banyak. Bisa dimanfaatkan untuk memicu produksi beras dalam negeri dalam jumlah besar. Mari hindari ambil untung sesaat demi membangun kehidupan petani yang selamat,” ujar Hj Riri Damayanti John Latief.

Namun Ketua Umum Pemuda Jang Pat Petulai ini memberikan apreasiasi kepada Kementerian Pertanian yang terus berupaya untuk konsisten menjaga komitmen dalam mendukung akselarasi ekspor pertanian.

“Ini bertolak belakang dengan impor beras. Ini yang meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan daerah. Ayo buktikan bahwa Indonesia negara kaya hasil bumi, pertanian sebagai penopang perekonomian bangsa, bukan sebaliknya,” tukas Hj Riri Damayanti John Latief.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini mengajak pemerintah daerah untuk memanfaatkan peluang masuknya Indonesia ke dalam rantai nilai pangan atau food value chain dengan menjadikan petani dan pelaku usaha bidang pertanian sebagai subjek pembangunan.

“Bayangkan betapa besar keuntungan yang bisa diperoleh dari makanan dan minuman yang diolah dari hasil-hasil bumi sendiri dengan alat-alat modern dan kemasan yang menarik. Ini akan berhasil kalau hasil petani dibeli, bukan dipukul dengan impor,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Data terhimpun, beberapa komoditas yang masih cukup tinggi antara lain daging ayam, daging sapi, minyak goreng hingga cabai rawit merah dan cabai merah yang kembali mengalami kenaikan.

Di banyak pasar, terjadi penurunan stok minyak goreng, pasokan cabai yang belum aman atau belum melimpah. Sementara untuk harga daging naik dikarenakan harga yang diterima dari Rumah Potong Hewan yang tinggi, berbeda dengan daging ayam yang tinggi dari peternak.

Data tersebut terkonfirmasi dengan rilis Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), per Kamis (15/4/2021) harga rata-rata daging ayam sekitar Rp 37.800 per kilogram, naik dari sepekan sebelumnya (8/4/2021) yang sekitar Rp 36.250 per kilogram. [**]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed