oleh

Tiga Masalah Ekonomi Ini Perlu Diatasi

Basurek.com, Bengkulu – Sejumlah literasi merilis terjadinya kenaikkan sejumlah harga kebutuhan pokok terjadi di pasar-pasar tradisional yang menyebar di kabupaten/kota se-Indonesia seiring masuknya bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, berdasarkan perhitungannya, ada tiga masalah ekonomi yang mendesak untuk ditindaklanjuti bersama-sama pada bulan Ramadan ini di tengah kondisi pandemi covid-19 masih berlangsung. Tiga masalah ini layak dijadikan catatan oleh semua pihak, termasuk bagi para pengusaha muda Bengkulu.

Pertama, Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini menjelaskan, tingginya angka pengangguran setelah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) saat puncak pandemi covid-19 tahun 2020 yang lalu. Di Bengkulu, Bank Indonesia mengumumkan angkanya naik.

“Ada yang dirumahkan, diberhentikan, atau bangkrut dan kehilangan usaha. Hampir semua usaha mengalami penurunan penjualan dan pemasukan perusahaan. Mudah-mudahan program-program yang telah dirancang pusat untuk mengatasi ini seperti padat karya dapat diperkuat di daerah,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Rabu (14/4/2021).

Kedua, Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini melanjutkan, turunnya daya beli masyarakat dimana Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM paling merasakan dampaknya.

“Ini juga yang memicu pengangguran. Banyak orang lebih memilih menabung ketimbang belanja, kecuali barang-barang yang memang mendesak untuk dibeli. Pemerintah harus lebih kompak bekerja keras untuk meyakini masyarakat bahwa pada bulan Ramadan ini pandemi covid-19 terus ditangani dengan baik dan pemerintah akan berhasil,” ungkap Hj Riri Damayanti John Latief.

Ketiga, Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini menambahkan, meningkatnya tekanan inflasi yang salah satunya diakibatkan oleh kelangkaan pasokan gas LPG 3 kg dipasaran.

“Saya terus meminta agar pemerintah mempertahankan berbagai program perlindungan sosial mulai dari BLT dana desa, keluarga harapan, kartu prakerja, bantuan untuk modal UMKM dan lain sebagainya. Perbaiki skema penyalurannya, perbesar jumlahnya dan bila memungkinkan perbanyak penerima manfaatnya,” tutur Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini menambahkan, salah satu yang belum nampak pulih di Bengkulu saat ini meski telah ada vaksinasi adalah sektor pariwisata.

“Pariwisata ini kaitannya banyak. Kayak hotel, restoran, transportasi, semua masih mengeluh. Belum lama ini saya menggelar talkshow entrepreneur, banyak sektor ini yang mengaku belum tahu kapan bisa pulih setelah dihantam pandemi. Mudah-mudahan pemerintah bisa lebih fokus menangani krisis akibat pandemi covid-19 sehingga sektor-sektor yang masih mandeg bisa kembali berjalan normal,” demikian harap Hj Riri Damayanti John Latief.

Dalam rilisnya, Bank Indonesia menyatakan pandemi covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan IV 2020 terkontraksi hampir di semua komponen dan lapangan usaha utama Provinsi Bengkulu. Kinerja investasi melemah, nilai belanja pemerintah dan pendapatan asli daerah (PAD) menurun.

Bank Indonesia memprediksi perekonomian Bengkulu masih akan mengalami kontraksi pada triwulan I 2021 dan baru akan mengalami perbaikan pada pada triwulan II 2021 dengan alasan membaiknya kinerja investasi dan ekspor di tengah kenaikan impor.

Konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah diprakirakan tumbuh meningkat karena sangat dipengaruhi oleh momen Ramadhan dan Idul Fitri. Demikian juga dengan kinerja ekspor, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. [MM]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed