oleh

Segera Bahas RUU PKS

Basurek.com, Bengkulu – Hari ini, Senin (8/3/2021), International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Sedunia diperingati di berbagai negara dengan tema #ChooseToChallenge atau memilih untuk menantang segala bentuk ketidaksetaraan dan kebijakan yang menindas perempuan.

Di tengah momen Hari Perempuan Sedunia 2021, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief menyoroti empat hal yang menurutnya patut menjadi perhatian bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah perempuan khususnya di era pandemi saat ini.

“Pertama menekan peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selama pandemi covid-19 berlangsung, berbagai data menunjukkan fakta peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang memprihatinkan. Ini harus distop,” kata Hj Riri Damayanti John Latief.

Kedua, Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini berharap agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) segera dibahas, disahkan, disosialisasikan dan dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat.

“Menteri pun sudah minta agar ini segera disahkan karena mengakui masih lemahnya pendampingan dan pencegahan kekerasan seksual di tengah masyarakat. Jadi tunggu apa lagi?” tanya Hj Riri Damayanti John Latief.

Ketiga, Anak Suku Adat Tiang Empat Pematang Tigo itu melanjutkan, setiap perempuan yang telah memegang jabatan publik seperti bupati, wali kota, atau gubernur, kepala organisasi perangkat daerah maupun yang berada di parlemen dapat lebih getol memperjuangkan persoalan perempuan, anak, dan keluarga.

“Bukan berarti ini hanya perjuangan perempuan, tapi seharusnya perempuan yang sudah punya power lebih getol berkontribusi mencegah dan menindak kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan, menekan angka kematian ibu, atau memastikan pendidikan yang berkualitas, adanya dukungan terhadap perempuan pelaku ekonomi dan lain-lain,” imbuh Hj Riri Damayanti John Latief.

Keempat, Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini berharap pemerintah melalui kementerian terkait dapat mencegah munculnya banyak tontonan yang tidak mendidik baik di media sosial dan televisi.

“Bukan hanya kali ini saya suarakan hal ini. Apa yang merusak mental bangsa adalah tayangan-tayangan yang seakan-akan menghibur, tapi sebenarnya merusak. Gaya hidup generasi muda sangat diracuni oleh tayangan-tayangan vulgar yang dengan mudah bisa dilihat di media sosial atau televisi,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Data terhimpun, di seluruh dunia, aksi unjuk rasa untuk mengakhiri aksi kekerasan pada perempuan semakin membesar di tengah pandemi covid-19. Para aktivis mendesak para pemimpin dunia menghentikan pelecehan terhadap perempuan yang situasinya dinilai memburuk selama pandemi.

Melansir Berdikari Online, Hari Perempuan Sedunia yang diperingati tiap tanggal 8 Maret, bukan hanya seremonial belaka. Pada tahun 1917, peringatan IWD berujung pada revolusi sosial.

Itu terjadi di Rusia. Aksi tanggal 8 Maret 1917, yang diorganisir oleh perempuan Rusia, menjadi pemantik berkobarnya Revolusi terbesar di awal Abad ke-20: Revolusi Rusia.

Tahun 1910, di Konferensi Internasional Perempuan Sosialis di Kopenhagen, Denmark, Clara Zetkin, seorang sosialis, mengusulkan agar 8 Maret dijadikan sebagai Hari Perempuan Sedunia. Usulan itu diterima oleh ratusan perempuan delegasi dari 17 Negara. [M2]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed