oleh

Khawatir Adanya “Learning Loss”, Ini Harapan Senator Bengkulu

Basurek.com, Bengkulu – Nyaris setahun sejak berlakunya belajar jarak jauh, pemerintah kini mulai mengkhawatirkan adanya learning loss atau fenomena sebuah generasi yang kehilangan kesempatan menambah ilmu karena ada penundaan proses belajar mengajar.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengajak stakeholder terkait di pusat maupun daerah untuk duduk bersama merumuskan solusi bijak untuk mengatasi masalah ini mengingat telah banyaknya sekolah yang memulai proses pembelajaran tatap muka di tengah angka positif covid-19 yang terus meningkat.

“Kebijakan apapun yang diambil mengenai proses belajar mengajar ini letakkan keselamatan siswa dan guru sebagai prioritas. Yang harus diperhatikan dengan serius bahwa tatap muka baru diperkenankan untuk sekolah yang sangat sulit melakukan belajar jarak jauh terutama di daerah terdepan, terluar dan tertinggal dengan pendampingan dari kementerian pendidikan. Jadi belum semua,” kata Riri Damayanti, Senin (1/2/2021).

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini tak menampik bahwa di Bumi Rafflesia banyak sekolah daring yang mengalami berbagai kesulitan mulai dari sinyal yang tidak stabil, siswa tidak memiliki alat memadai untuk belajar online hingga rasa jenuh.

“Nggak bisa dipungkiri dan memang banyak orang tua curhat ke saya kesulitan membimbing anak-anaknya belajar daring, malah cemas dengan efek negatif internet yang banyak memunculkan gambar-gambar tidak pantas secara mendadak. Tapi apakah pembelajaran tatap muka satu-satunya solusi? Agak rumit mengiyakannya di tengah positif covid-19 yang terus meningkat,” ujar Riri Damayanti.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur ini berharap pemerintah daerah benar-benar bijak dan menahan diri sebelum wabah covid-19 telah benar-benar terkendali.

“Di beberapa daerah saya lihat justru sudah banyak yang berinovasi dengan membentuk semisal kelompok belajar sehat di Batang Jawa Tengah dimana anak-anak tetap bisa belajar tatap muka terbatas bergiliran dengan cara yang menarik dan protokol kesehatan yang ketat. Sebenarnya yang kita butuhkan saat ini adalah inovasi semacam ini,” sampai Riri Damayanti.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini menyayangkan belum adanya formulasi baru dalam dunia belajar mengajar di tengah pandemi yang belum terkendali dengan hasil yang nyata.

“Kalau otak atik kebijakan ini harus pasrah dengan situasi dan keadaan, saya khawatir kondisinya akan lebih memperburuk kualitas pendidikan dan pada akhirnya menjadi mimpi buruk bagi kualitas generasi kedepan. Kalau sudah disadari, mari berbenah. Mudah-mudahan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian saat ini pemerintah bisa memberikan kepastian terhindarnya generasi dari learning loss sehingga kualitas pendidikan tidak semakin memburuk,” demikian Riri Damayanti.

Untuk diketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim lebih dari sepekan yang lalu telah mendorong pemerintah daerah segera membuka pembelajaran tatap muka di sekolah agar learning loss tidak semakin memperburuk kualitas pendidikan di Indonesia.

Sementara di Bengkulu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) menargetkan Kegiatan Belajar Mengajar secara tatap muka akan digelar pada Februari 2021 ini setidak-tidaknya 30 hingga 50 persen sekolah yang ada diharapkan telah dapat memulainya.

Negara lain seperti Korea Selatan pernah membuka proses belajar mengajar menjadi tetap muka lantas kemudian menutupnya kembali lantaran pandemi yang kembali menerpa negara para artis K-Pop tersebut. [*]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed