oleh

Selamatkan Pengusaha Tahu Tempe

Basurek.com, Bengkulu – Sejumlah pengrajin tahu tempe di Bengkulu menjerit setelah melambungnya harga kedelai. Di beberapa tempat, pengrajin mulai mengurangi jumlah produksi hingga berencana untuk gulung tikar bila tidak ada campung tangan pemerintah untuk mengendalikan harga kedelai tersebut.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief meminta kepada stakeholder terkait untuk bergerak cepat merespon permintaan pengrajin tahu tempe sebelum banyak usaha mereka yang tutup karena berhenti berproduksi.

“Pemerintah sudah melakukan operasi pasar di Pulau Jawa. Tapi di Sumatera belum terdengar. Saya harapkan ada asas keadilan dalam pengendalian harga ini merata di seluruh Indonesia,” kata Riri Damayanti, Rabu (13/1/2021).

Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, tahu dan tempe merupakan lauk pauk paling favorit hampir di seluruh kalangan masyarakat Indonesia.

“Saya minta kalau memang ada pihak-pihak yang dengan sengaja merugikan para produsen tahu tempe dengan sengaja demi mendapatkan keuntungan ditindak tegas sampai kapok,” tandas Riri Damayanti.

Ketua Umum Pemuda Jang Pat Petulai ini mengingatkan kepada pemerintah tentang komitmen mencapai swasembada kedelai mengingat sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah melakukannya.

“Kalau memang pasar tidak lagi ramah dengan harga kedelai, tidak ada salahnya pemerintah ambil alih supaya harganya stabil. Kebijakan untuk memacu produksi kedelai lokal agar bisa memenuhi kebutuhan kedelai nasional harus jadi agenda prioritas,” demikian Riri Damayanti.

Data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyebutkan bahwa harga normal kedelai biasanya di kisaran Rp 6.100-6.500 per kilogram (kg) per Maret-April 2020 lalu, namun saat ini harganya naik menjadi sekira Rp 9.300-9.800/kg.

Mengenai hal ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan harga kedelai yang ada saat ini mencetak rekor dalam enam tahun terakhir yang disebabkan oleh gangguan cuaca La Nina di Latin Amerika dan diprediksikan akan terus naik hingga Mei 2021.

Selain itu, Lutfi juga menyatakan melonjaknya harga kedelai ini juga lantaran tingginya permintaan dari Republik Rakyat Tiongkok yang berusaha kembali memulihkan ternak babinya setelah seluruhnya dimusnahkan karena flu babi pada kurun waktu 2019 hingga 2020.

Namun Direktur Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah menyatakan bahwa kenaikan ini dipicu karena pandemi vodid-19 menyebabkan proses pengiriman ke Indonesia terhambat di pelabuhan-pelabuhan transit sehingga harga kedelai dan biaya pengirimannya melonjak. [M2]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed