oleh

Urai Masalah Sampah di Masa Pandemi

Basurek.com, Bengkulu – Sampah masih menjadi persoalan rumit yang dihadapi oleh daerah perkotaan di dunia, Indonesia, termasuk Bengkulu. Selama masa pandemi covid-19, permasalahan sampah kian bertambah dengan meningkatkan timbunan sampah rumah tangga.

“Berbagai survei sudah mengungkapkan sampah medis dan sampah rumah tangga meningkat selama masa pandemi karena imbauan bekerja, belajar dan beribadah di rumah,” kata Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief, Selasa (5/12/2020).

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur ini mengajak semua pihak untuk membudayakan gaya hidup bersih dengan diet kantong plastik dan memanfaatkan sampah tak terpakai untuk hal-hal yang bermanfaat atau sering dikenal dengan gaya hidup zero waste.

“Ringankan tugas petugas kebersihan dengan memilah sendiri sampah yang kita produksi, sampah sisa makanan jadikan kompos, sampah masker taruh di kantong tertutup, ini upaya yang penting juga untuk menghentikan penularan covid-19,” ungkap Riri Damayanti.

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini memaparkan, termasuk penting membudayakan penggunaan masker kain yang dapat dicuci ulang dan penggunaan masker medis hanya untuk para petugas medis dan pasien.

“Karena masker medis hanya sekali pakai dan akhirnya jadi sampah. Pas keliling menyerap aspirasi kemarin saya lihat banyak sampah masker medis berserakan. Jangan sampai pandemi belum selesai, masalah ini muncul sebagai persoalan baru,” tukas Riri Damayanti.

Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini menambahkan, saat ini Komite II pada masa sidang II penyusunan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah telah sampai pada tahap finalisasi yang dilaksanakan pada tanggal 8 hingga 10 November 2020.

“Rapat bersama untuk harmonisasi, pembulatan dan pemantapan konsepsi atas RUU tersebut. Mudah-mudahan bisa segera rampung dan menjadi salah satu solusi untuk menguraikan masalah persampahan di Indonesia termasuk Bengkulu,” demikian Riri Damayanti.

Berdasarkan catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sampah kemasan sekali pakai dari belanja online dan delivery meningkat dua kali lipat sejak pandemi covid-19 berlangsung.

Sampah tersebut berupa bubble wrap, selotip plastik dan rafia plastik. Jenis plastik sekali pakai dinarasikan sebagai pilihan lebih sehat dan higienis di tengah pandemi.

Data ini disikapi Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) yang kuat mengkampanyekan gerakan menolak barang serba sekali pakai dengan mengajak diskusi berbagai pihak, terutama perusahaan e-commerce. [M2]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed